Battleme - Future Runs Magnetic

Artis: Battleme

Judul Album: Future Runs Magnetic

Label: El Camino

Setelah merilis album perdana self titled pada tahun 2012 silam dan menjadi lebih dikenal sebagai salah satu pengisi soundtrack serial televisi asal Amerika Sons ofAnarchy, Battleme kembali lagi dengan album keduanya yang berjudul FutureRuns Magnetic. Meskipun dari namanya Battleme terkesan mempunyai konsep full band, sebenarnya Battleme adalah proyek solo dari Matt Drenik, vokalis band rock Lions. Di sini Drenik menjadi vokalis, mengisi gitar, perkusi, piano, sekaligussynthesizer. Album yang terdiri dari 12 lagu ini lebih dari sekadar album rock biasa karena Future Runs Magnetic menghasilkan sesuatu yang lebih kompleks dengan mencampur folk, garage, sludge, dan electro ke dalam suatu wadah yang sama,

Just Weight membuka Future Runs Magnetic dengan awalan yang menghentak dan sedikit banyak mengingatkan kita kepada Japandroids namun dalam versi yang lebih lembut dengan suara synthesizer yang mendominasi di latar belakang dan suara falsetto Drenik yang sebenarnya menjadi titik pusat kemenarikan album ini.  Memasuki lagu kedua, I Know, Battleme menaikkan tempo lagu menjadi lebih cepat dengan riff gitar solo yang kasar sebagai formula utamanya. Namun tempo lagu kembali diturunkan begitu memasuki lagu ketiga, Don’t You Worry About Me Tonight, yang baik dari segi lirik maupun nada terdengar lebih centil. Berikutnya ada Shotgun Song, yang merupakan salah satu lagu yang lemah pada album ini karena keseluruhan lagunya seolah terasa falls flat. Lagu dilanjutkan dengan Nights on The Strand yang didapuk sebagai single pertama dan berawal pelan namun menghentak begitu memasuki bagian bridge, yang kemudian dilanjutkan dengan We Get OutWe Are Underground, Cobweb Portrait, I Want My Kim Deal, I Am A Lightning Bolt, Future Runs Magnetic, dan ditutup dengan Easy Come Riding, yang sebenarnya kurang pas jika diletakkan sebagai track pamungkas dari keseluruhan album ini.

Must listen: Nights on The Strand, We Are Underground, I Want My Kim Deal

As featured on RTC UI FM on March 24th 2014

Best Albums of 2013

Tahun 2013 adalah tahun yang penuh dengan warna dan kejutan dalam belantika industri musik internasional. Mulai dari gerakan twerk yangracy yang dipopulerkan oleh Miley Cyrus, munculnya musisi-musisi pendatang baru yang siap bersaing untuk mencuri spotlight dari para pemain lama seperti Macklemore & Ryan Lewis dan Lorde, band-band yang melakukan comeback setelah lama vakum seperti Fall Out Boy dan Primal Scream, band-band yang bubar seperti My Chemical Romance, album-album terbaru yang mengejutkan seperti ‘Yeezus’-nya Kanye West dan album self-titled-nya Beyonce di penghujung tahun, hingga kabar duka yang datang dari kepergian Lou Reed dan Benjamin Curtis-nya School of Seven Bells. Seiring dengan akan berakhirnya tahun 2013, rasanya akan kurang pas jika tidak menutup tahun ini dengan memilih lima album terbaik dari sekian banyak album yang dirilis pada tahun ini. Berikut ini adalah lima album terbaik tanpa diurutkan berdasarkan urutan tertentu:

1. Arctic Monkeys – AM

Dirilis pada awal September 2013, album kelima Arctic Monkeys ini segera menarik perhatian banyak orang dengan perubahan style mereka mulai dari genremusik, fashion, hingga tema lirik, serta pemilihan judul album yang terkesan mengikuti ‘BE’-nya Beady Eye hanya karena ‘BE’ dirilis terlebih dahulu, di mana yang sebenarnya mereka mengikuti album ‘VU’-nya Velvet Underground. Masih dengan memercayakan Alex Turner sebagai pencipta lirik, ia memutuskan untuk meninggalkan tema-tema standar yang biasa dipilih oleh band-band indie rock. Lirik lagu-lagu di album ‘AM’ ini bercerita seputar seks, gairah, rasa frustasi, hingga getting high, yang di lain sisi terdengar manis dan bahkan puitis. Kerja sama dengan beberapa musisi seperti salah satunya Josh Homme-nya Queens of The Stone Age serta mengutip puisi karangan John Cooper Clarke pada lagu ‘I Wanna Be Yours’ adalah beberapa hal yang menjadikan ‘AM’ terasa berbeda, selain karena Arctic Monkeys juga menjadi lebih dewasa dalam konteks musik, lirik, dan gaya. ‘AM’ adalah album Arctic Monkeys tersukses saat ini, dan juga album yang tampaknya dicintai oleh banyak orang. Tidak heran jika ‘AM’ selalu menyabet posisi dalam daftar peringkat album-album terbaik di tahun 2013.

Favorite tracks: Do I Wanna Know, R U Mine, Why’d You Only Call Me When You’re High, I Wanna Be Yours

2. AlunaGeorge – Body Music

AlunaGeorge hanyalah salah satu nama yang mengikuti tren singer-producer team up yang menggabungkan nama keduanya sebagai nama panggung mereka di tahun ini. Mengusung musik ber-genre future pop, AlunaGeorge menjadi harapan banyak orang untuk dapat mengubah citra musik pop yang mendominasichart yang cenderung dangkal, membosankan, dan tidak variatif, berkat karakter vokal dan persona vokalis Aluna Francis yang sengau, berbeda, dan seperti putri es yang tidaklah dingin, melainkan menyejukkan, ditambah dengan produser George Reid yang bertanggung jawab atas elemen-elemen electro-pop kontemporer di dalam musiknya yang membuat lagu-lagu di album ini terasa seperti out of this world. Kolaborasi mereka dengan Disclosure dalam lagu ‘White Noise’ lah yang pertama kali mengangkat nama mereka ke permukaan, dan membuat ‘Body Music’ menjadi salah satu album yang diperhitungkan dalam dunia musik pop.

Favorite tracks: You Know You Like It, Attracting Flies, Your Drums Your Love

3. The 1975 – Self Titled

Album self titled ini merupakan album full length pertama dari The 1975, yang berisi lagu-lagu yang sebelumnya telah ada di 4 EP mereka sebelumnya dengan ditambah beberapa lagu baru. Album yang memiliki keragaman dari genre lagu mulai dari indie rock yang didominasi oleh guitar riffs dan bass lines yang berat hingga disco funk dengan rasa tahun 1980-an ini awalnya terlihat segmenteduntuk penggemar jenis musik tertentu, namun lagu-lagu single mereka yangradio friendly membuat album ini memasuki kancah mainstream dan berhasil menduduki posisi-posisi tinggi dalam chart. Lirik-lirik yang ada di dalam album ini kebanyakan bercerita tentang seks dan narkoba di kehidupan anak muda, yang sebenarnya cenderung eksplisit, namun tetap dapat terdengar appropriate di telinga.

Favorite tracks: The City, Chocolate, Sex

4. Lorde – Pure Heroine

Apa yang telah kalian lakukan saat berumur 16 tahun? Mungkin menginvasi dunia dari daratan yang berada di bagian bumi paling selatan dengan menjadiinternational smash hit bukan salah satunya, tapi singer-songwriter bernama asli Ella Yelich-O’Connor ini telah berhasil melakukannya. Lorde menulis sendiri seluruh lirik dalam album ini sekaligus ikut menulis musiknya, di mana setiap lagu memberikan gagasan bahwa Lorde adalah seseorang yang wise beyond her years dan senang melawan arus, sehingga ‘Pure Heroine’ terdengar sangat anti-pop. Semoga saja nominasi Grammy tidak kemudian membuatnya cepat puas dan lupa diri, seperti kebanyakan musisi lain seusianya.

Favorite tracks: Tennis Court, Royals, Ribs, Team

5. Haim – Days Are Gone

‘Days Are Gone’ adalah debut album yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak orang setelah kesuksesan Haim melalui EP berjudul Forever pada tahun 2012. Sangatlah mudah untuk menjadi ketagihan dengan lagu-lagu Haim yang bernuansa soft rock tahun 1970-1980an dan R&B tahun 1990-an karena ke-catchy-annya yang sangat radio friendly, apalagi jika ditambah dengan persona para personilnya: tiga saudari Este Haim, Danielle Haim, dan Alana Haim, yang sangat lovable.

Favorite tracks: Falling, Forever, Don’t Save Me, My Song 5

As featured on: RTC UI FM on January 5th 2014

Single Review: Mazzy Star - California

image

Artis: Mazzy Star

Judul Lagu: California

Label: Rhymes of An Hour Records

Setelah lebih dari 15 tahun vakum karya, duo Hope Sandoval (vokal) dan David Roback (gitar) merilis California pada 16 Juli 2013 lalu. Band yang melejit melalui single Fade Into You (1994) ini kembali dengan sebuah kisah mengenai kerinduan mereka terhadap kampung halaman mereka, California, setelah sekian lama berada di tempat yang nun jauh di sana. Masih dengan vokal Hope Sandoval yang lembut, malas, dreamy, haunting, dan soothing pada saat yang bersamaan dan diiringi dengan chord gitar sederhana mendayu-dayu yang telah lama menjadi ciri khas, California menjadi single dari album studio keempat Mazzy Star, Seasons Of Your Day, yang akan dirilis pada 24 September 2013 mendatang.

As featured on RTC UI FM on August 4th 2013

Album Review: Kate Nash - Girl Talk

image

Artis: Kate Nash

Album: Girl Talk

Label: Have 10p Records

Lagu apa yang langsung terbayang di benak kalian begitu nama Kate Nash disebut? Mungkin lagu-lagu dari album pertamanya, Made of Bricks (2007), seperti Foundations dan Pumpkin Soup yang menceritakan sisi-sisi kehidupan percintaan seperti rasa desperate dan juga kebobrokan suatu hubungan itu sendiri, yang dibawakan dengan lembut dan manis ala indie pop. Dalam Girl Talk, Kate Nash bereksperimen dengan lebih banyak riff gitar yang kasar, vokal yang tidak selembut di Made of Bricks maupun My Best Friend is You (2010), tapi tetap dengan kehidupan percintaan sebagai isu utama.

Mendengarkan lagu-lagu di dalam album Girl Talk, rasanya seperti terbawa kembali ke era sekolah: penuh kemarahan, penuh kekecewaan, penuh ketidakpedulian, dan khas anak remaja cewek yang akusentris (aku cinta kamu tapi kenapa kamu nggak cinta sama aku atau semua orang ngebicarain tentang aku di belakangku tapi aku nggak peduli apa kata mereka, semacam itu). Gaya bahasa yang berbunga-bunga sepertinya memang bukan gayanya Kate Nash, lirik-liriknya to the point dan sederhana, kalau tidak bisa dikatakan cheesy. Girl Talk menjadikan Kate Nash yang berusia 25 tahun seperti terjebak dalam kekalutan pikiran anak remaja tak ubahnya Taylor Swift, ataupun Adele, yang mendapat nilai tambah dari saya dibandingkan kedua penyanyi ini karena membawakan lirik-lirik patah hatinya yang sarat makna dengan gaya ballads

Girl Talk tidak terdengar seperti album ketiga dari seorang musisi yang sudah punya bentuk, rasanya lebih seperti album perdana dari musisi anyar yang masih belum punya self branding imageAnyway, ada dua hal yang saya garis bawahi sebagai hal positif dari album ini. Saya menyukai eksperimen Kate Nash yang berupaya memasukkan riff-riff gitar ala garage rock tahun 1990-an ke dalam sebagian besar lagu-lagunya. Karakter vokal Nash pun berkembang menjadi tidak menjemukan dengan tidak hanya mengandalkan suara yang lembut dan manis. Siapa yang sangka Nash ternyata bisa menyanyi dengan asal-asalan atau kasar seperti Taylor Momsen-nya The Pretty Reckless tapi tetap terdengar rapi dan menjual? Bahkan ia mencoba untuk nge-rap pada lagu Rap For Rejection. Jika memang girl power yang menjadi pesan dari album ini, maka pesan tersebut tersampaikan dengan rapi melalui musik yang lebih keras dan karakter vokal Nash yang ternyata dinamis, bukan melalui liriknya.

Must listen: Part Heart, Death Proof, 3 AM, Rap For Rejection

Pikiran dan Tubuh Nganggur? Di Sanalah Rindu Menyeruak

Selalu ada yang menarik untuk diceritakan dari masa lalu. Entah kenangannya itu manis semanis es teh manis buatan Mang Ari dan kawan-kawannya yang saya minum setiap saya nongkrong di kantin kampus ataupun pahit yang menyayat hati sehingga lebih baik tidak perlu dibahas secara lebih lanjut dan mendalam. Tapi, bagaimanapun jalan cerita tersebut kita lalui, pasti ada hal yang menarik, setidaknya detil yang dapat membuat kita mengingat betul kejadian tersebut. Apalagi jika jalan ceritanya manis, atau berakhir bahagia (yang ngegantung, mengingat ini masa lalu yang terhenti di masa yang lalu, bukan masa lalu yang terus berlanjut hingga masa sekarang), yang sesekali bisa menimbulkan rasa rindu.

Saya kira saya (mulai) berhasil melewati masa krisis saya di tempat saya yang sekarang, yang lumrah terjadi pada setiap anak baru (pegawai) di lingkungan (tempat kerja) barunya selama 1-3 bulan pertama menurut teori dalam mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia, karena pada April ini saya sudah terhitung tiga bulan di sana. Pembelaan diri saya, saya ini orangnya susah beradaptasi dengan lingkungan baru dan orang-orang baru, sebagian diri saya masih terbiasa dengan cara-cara lama. Makanya saya perlu sampai tiga bulan. Saya bersyukur sudah bisa merasa nyambung dan berada dalam satu frekuensi yang sama dengan mereka, tidak lagi merasa diri saya seperti seorang alien (apakah hal ini bertentangan? Mengingat alien itu ya alien, bukan manusia atau orang. Tapi saya ini orang. Lantas bagaimana?) yang nyasar karena piring terbangnya karam di sebuah tanah asing. Tapi di sisi lain, di saat-saat seperti ini, seperti saat tadi saya pulang setelah nongkrong-nongkrong bersama kawan-kawan lama lalu mengikuti sebuah diskusi film dengan orang-orang yang sama, tapi kemudian perlahan-lahan mereka semua undur diri berkutat dalam frekuensi-frekuensi berbeda yang tidak lagi selaras dengan saya dan begitupun sebaliknya, hingga tiba-tiba tinggal tersisa saya seorang diri pulang mengejar bikun dengan sol sepatu licin yang tidak bisa diandalkan begitu mencium jalanan yang basah, saat-saat seperti inilah yang membuat saya rindu dengan masa lalu.

Manusia dan manusia lainnya bertemu karena atas nama sebuah alasan, dan berpisah karena atas nama sebuah alasan pula. Bisa jadi tidak hanya satu, tapi beragam alasan, tergantung konteksnya. Ada perjumpaan, ada pula perpisahan. Hal-hal seperti ini alamiah dan akan terus terjadi mau tidak mau dan sadar tidak sadar, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Saya sering mempertanyakan teman-teman saya yang sering berkomentar “ih kamu sekarang sombong ya, udah nggak pernah main bareng sama kita, sapa-sapaan aja nggak pernah” kepada temannya yang lain yang sudah pergi ke jalan yang berbeda dengan dirinya. Sebegitu takutkah ia akan perpisahan? Sebegitu tidak terimanyakah ia akan perpisahan? Bukankah setiap manusia memang mempunyai takdirnya sendiri-sendiri? Dari lahir sendirian (kecuali yang kembar), sampai liang lahat juga sendirian. Bahkan diadili di hadapan Tuhan nanti juga akan sendirian. Memangnya ada yang dengan sukarela mau menanggung dosa temannya sendiri? Mungkin pernyataan itu hanya untuk sekadar berbasa-basi, cari perhatian, trigger untuk pembicaraan yang lebih panjang, atau bahkan rekonsiliasi hubungan jika memungkinkan. Tapi bagaimanapun menurut saya, pernyataan seperti itu menjengkelkan. 

Mungkin teman saya ini terjebak romantisme masa lalu. Kenangan yang manis, yang dulu pernah memenuhi setiap rongga tubuh kita. Dan begitu kenangan-kenangan itu mulai menyusut, rasa haus pun muncul. Rasa bahagia, atau mungkin tidak sesederhana itu, seperti status, kekayaan, atau apapun yang dapat membuat kita merasa bahagia, dapat menimbulkan kecanduan. Rasa hausnya bisa muncul di saat kita terbenam dalam footage masa lalu yang berputar-putar di dalam kepala kita dan kita tahu tidak ada hal yang paling tidak bisa mengembalikannya ke dalam state yang sama seperti dulu. Orang-orang yang sering terjebak romantisme masa lalu umumnya pecandu kebahagiaan yang terekam dalam bentuk kenangan. Mungkin saya termasuk ke dalam salah satunya juga. Blog ini dipenuhi dengan tulisan-tulisan yang bisa menegaskan hal ini. Dan siklus depresi bulanan saya kini kadang berubah menjadi siklus romantisme masa lalu bulanan.

Saya setuju jika situasi di mana kita terjebak dalam romantisme masa lalu dapat disebut dengan istilah yang lebih mudah dan lebih dekat dengan masyarakat, yakni: galau. Tapi saya tidak setuju jika galau itu hanya terbatas pada ranah cinta saja. Galau itu lebih luas dari sekadar tetek bengek percintaan. Sayangnya masyarakat kita telah men-generalisasikan berbagai rasa gelisah dan gundah gulana dalam kegalauan ke dalam konteks cinta. Istilah galau melulu diasosiasikan dengan cinta.

Tadi sore saya berkata kepada salah seorang mantan bos saya, “Saya kangen menjadi sibuk. Karena saat saya sibuk, saya tidak punya waktu untuk berkontemplasi untuk diri saya sendiri. Saya tidak punya waktu untuk memikirkan hidup. Yang harus saya pikirkan hanyalah bagaimana caranya saya dapat menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya.” Mantan bos saya mengamini pernyataan saya. Saya merasa lebih bahagia saat menjadi sibuk. Karena saya tidak punya waktu untuk kontemplasi, terkadang bahkan secara general. Saya mulai kembali menulis dengan asal di blog ini (oke fine, tumblog, atau tumblr. Rasanya ganjil dari tadi menyebutnya sebagai sebatas ‘blog’ saja) begitu saya menganggur kembali. Tapi hidup seperti itu, tenggelam dalam rutinitas kesibukan sendiri, akan menjadikan saya manusia yang hidup di dalam kotak.

Mungkin, yang harus saya lakukan sekarang adalah mulai membangun hidup saya sendiri, seperti yang sedang dilakukan oleh mantan bos saya yang lain. Mungkin. Membangun hidup dapat membuat saya move on dari jebakan romantisme masa lalu. Mungkin. Usia saya 20 tahun ini, pada saat masa bimbingan skripsi saya nanti saya akan kembali ke rumah, saya tidak punya pekerjaan, saya masih dibiayai secara penuh oleh orang tua, dan saya mempunyai pengetahuan nyaris nihil mengenai kehidupan percintaan. Mantan bos saya yang lainnya itu tadi bilang, seseorang baru dapat dikatakan settle jika ia sudah bisa menghidupi dirinya sendiri, atau telah menjejakkan kakinya pada fase hidup selanjutnya: pernikahan. Mengingat teman-teman seangkatan saya sudah mulai banyak yang punya penghasilan sendiri meskipun masih minim dan juga sudah ada yang punya rumah tangga sendiri atau akan punya begitu ia lulus kuliah, hidup saya masih jauh dari kata settle. Mungkin nanti, suatu hari. Mungkin dapat terjadi lebih cepat, jika saya sudah memulai perjalanan menuju sana sejak detik ini. Mungkin. Entahlah, setengah matipun saya selalu bilang bahwa saya ini sudah dewasa, deep down saya sering merasa saya hanyalah anak-anak yang terjebak untuk conform dalam tuntutan masyarakat.

Dan sebagian diri saya kemudian berteriak, mungkin hanya akan menjadi sebatas mungkin jika keberaniannya nihil! Lalu beberapa lagu dan iklan yang saya dengar di radio kemudian, ia pun hilang. Lenyap ditelan syair-syair romantis yang disenandungkan dengan apik dan iklan-iklan garing dari radio.

Single Review: Avril Lavigne - Here’s To Never Growing Up

image

Artis: Avril Lavigne

Judul Lagu: Here’s To Never Growing Up

Label: Epic Records

Lama santer terdengar kehidupan pribadinya ketimbang karier bermusiknya, Avril Lavigne kini kembali dengan single terbarunya Here’s To Never Growing Up yang dirilis pada 9 April lalu, sebagai teaser dari album kelimanya yang akan dirilis pada musim panas mendatang. Saat pertama kali mendengarnya di radio, pasti akan mudah ditebak bahwa ini adalah lagunya Avril Lavigne, karena lagunya sangat khas Avril dan sangat familiar di kuping.

Lagu ini berkisah tentang semangat masa muda dan menikmati hidup di waktu sekarang. Chad Kroeger, vokalis Nickelback yang juga tunangannya Avril, berupaya mengeksplor sisi dirinya yang lain dengan ikut membantu menulis lagu ini, dan Martin Johnson, vokalis Boys Like Girls, selaku produser, membuat lagu ini terasa seperti salah satu lagu dari album-album Boys Like Girls. Avril terlihat jelas bermain aman di lagu ini, karena ia tidak mengeluarkan seluruh potensinya dan lagu ini terlalu mudah baginya. Dengan lirik sederhana nan catchy yang penuh dengan rasa ketidakpedulian khas anak remaja seperti Avril Lavigne era album Let Go (2002) dengan sedikit referensi terhadap Radiohead dan juga beat yang selaras dengan kesederhanaan dan ke-catchy-an liriknya, lagu ini adalah sebuah pop anthem yang sangat radio friendly dan akan stuck di kepala anda untuk beberapa saat.

As featured on: RTC UI FM on April 23rd 2013

Album Review: Paroeh Waktoe - Imaginarium of Midnight Sound

image

Artis: Paroeh Waktoe

Album: Imaginarium of Midnight Sound

Label: Self release

Imaginarium of Midnight Sound adalah album perdana dari Paroeh Waktoe, sebuah band beraliran swing-jazz yang beranggotakan Margaretha Quina (vocal), Pandji Putranda (keyboard, vocal, backing vocal), Yohanes Mbasa (flute, saxophone, pianika), Indra Adiguna (bass), dan Marcellinus Indra (drum, percussion). Hadirnya album ini barangkali dapat memuaskan rasa haus kita akan seretnya musik lokal yang sejenis belakangan ini.

Album ini dibuka dengan Intro yang unik yang lalu dilanjutkan dengan Innocent As It Seems? (Thus, Spoke Valdano), sebuah tembang mengenai indahnya jatuh cinta yang digarap dengan manis di mana karakter suara sang vokalis, Margaretha Quina, sejak lagu ini sudah mengingatkan saya pada Bonita, vokalis Bonita & the hus BAND. All I Gotta Do menjadi lagu ketiga yang menceritakan tentang pahit manisnya jatuh cinta bertepuk sebelah tangan. Namun begitu memasuki lagu ketiga, Speak Lies To The Moon, rasanya mood lovey-dovey yang berhasil dibangun pada dua lagu sebelumnya seperti dihancurkan begitu kita disuguhi sebuah lagu yang menceritakan sakitnya jatuh cinta ini, yang meski liriknya gloomy, tetap dibawakan dengan manis. Deborah menjadi lagu keempat, yang menceritakan tentang suka duka menggunakan transportasi umum Bus Deborah. Kemudian, dilanjutkan dengan Terimakasih, At The Rainbow’s End, dan Cuci Jemur Setrika Bilas yang menjadi bonus track. Lagu Cuci Jemur Setrika Bilas menjadi favorit pribadi saya karena liriknya yang unik dan sangat kontras dengan aransemen lagunya.

Album Imaginarium of Midnight Sound menjadi must-have menurut saya, karena Paroeh Waktoe berhasil menyajikan sesuatu yang berbeda dengan baik. Selain itu, album ini juga bisa menjadi obat melepas penat yang menyenangkan setelah melewati rangkaian aktivitas yang melelahkan seharian.

Must listen: Innocent As It Seems? (Thus, Spoke Valdano), Speak Lies To The Moon, Deborah, Cuci Jemur Setrika Bilas

As featured on: RTC UI FM on March 10th 2013

Single Review: Wolf Alice - Fluffy

image

Artis: Wolf Alice

Single: Fluffy

Label: Chess Club

Single pertama Wolf Alice di tahun 2013 ini mengingatkan saya akan The Jezabels, karena lagu ini sejenis dengan apa yang akan dibuat oleh band asal Australia tersebut. Bahkan, karakter suara vokalisnya, Ellie Roswell, yang lembut tapi powerful itu juga mirip dengan karakter suara vokalis The Jezabels, Hayley Mary. Lalu, apakah Wolf Alice adalah sekadar band peniru The Jezabels yang berasal dari Inggris? Atau apakah mereka hanya bernasib sial karena baru muncul belakangan setelah The Jezabels, seperti apa yang terjadi dengan Rita Ora begitu muncul pertama kali langsung dicap sebagai peniru Rihanna? Kita lihat saja nanti.

Sebelum mengusung genre yang disebut oleh para personil Wolf Alice sebagai “psychofreak poprock” yang kental dengan lirik sensitif dan melodi yang tajam, awalnya mereka mengusung genre folk saat masih beranggotakan Ellie Roswell dan Joff Oddie (gitar) saja. Saat masih beraliran folk, mereka sempat merilis single (yang menjadi satu-satunya single yang dirilis sejak band ini terbentuk pada tahun 2010) yang berjudul Leaving You pada tahun 2012. Lagu yang bertempo lebih lambat dan bernuansa lebih suram daripada Fluffy itu membuat Wolf Alice mendapatkan gelar Bandcrush dari NME pada tahun 2010. Mereka mulai meninggalkan gitar akustik mereka dan belajar satu dua hal mengenai rock ‘n’ roll saat bertemu dengan Joel Amey, yang sekarang menjadi gitaris Wolf Alice. Saya senang mereka memutuskan untuk meninggalkan folk, karena mereka terdengar lebih bagus dengan musik mereka yang sekarang. Walaupun tidak dapat dipungkiri juga sudah ada banyak band yang mengusung format seperti Wolf Alice.

Buat saya, meskipun tidak menyajikan sesuatu yang sama sekali baru, lagu ini tetap tergolong bagus karena iramanya yang catchy dalam satu kali dengar dan membuat saya ingin memutarnya terus-menerus. Saya pun tidak heran jika NME memberikan gelar Bandcrush kepada Wolf Alice untuk yang kedua kalinya berkat Fluffy. Tapi untuk selanjutnya semoga saja psychofreak poprock dapat menyelamatkan mereka dari krisis identitas sehingga mereka benar-benar bisa menemukan bentuk tersendiri di tengah-tengah industri musik yang saling “terinspirasi” satu sama lain ini.

As featured on: RTC UI FM on February 22nd 2013